Jumat, 28 Oktober 2016

MALOKLUSI


 LATAR BELAKANG
            Maloklusi adalah keadaan yang menyimpang dari oklusi normal, hal ini dapat terjadi karena ketidaksesuaian antara lengkung gigi dan lengkung rahang. Keadaan ini terjadi baik pada rahang atas maupun rahang bawah. Gambaran klinisnya berupa crowding, protrusi, crossbite baik anterior maupun posterior.
            Berdasarkan laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional tahun 2013, sebanyak 14 provinsi mengalami masalah gigi dan mulut yaitu 25,9%. Prevalensi maloklusi di Indonesia masih sangat tinggi sekitar 80% dari jumlah penduduk, dan merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang cukup besar, hal ini ditambah dengan tingkat kesadaran perawatan gigi yang masih rendah dan kebiasaan buruk seperti mengisap ibu jari atau benda-benda lain, karena jumlah dan keparahan maloklusi akan terus meningkat maka maloklusi seharusnya dicegah ataupun ditangani.
            Lama perawatan pada satu maloklusi tidaklah sama dengan lama perawatan pada maloklusi jenis yang lain. Ada banyak faktor yang mempengaruhi lama perawatan ortodontik, diantaranya: usia pasien, tipe maloklusi, ada atau tidaknya ekstraksi, penggunaan perangkat yang digunakan cekat atau lepasan, keparahan maloklusi awal, kooperatif pasien, dll. Beberapa hal tersebut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi lama perawatan ortodontik.
RUMUSAN MASALAH
1.      Apa definisi dari Perawatan Ortodontik?
2.      Apa definisi dari Maloklusi?
3.      Apa saja klasifikasi dari Maloklusi?
4.      Apa saja jenis-jenis Maloklusi?
5.      Apa saja penyebab dari Maloklusi?
6.      Bagaimana cara menangani Maloklusi?
TUJUAN PENULISAN
1.      Mengetahui definisi dari Perawatan Ortodontik
2.      Mengetahui definisi dari Maloklusi
3.      Mengetahui klasifikasi dari Maloklusi
4.      Mengetahui jenis-jenis Maloklusi
5.      Mengetahui penyebab dari Maloklusi
6.      Mengetahui cara menangani Maloklusi
PEMBAHASAN
   1.      Definisi Ortodonti
Orthodonsi berasal dari bahasa Yunani ‘orthos’ yang berarti normal atau benar dan ‘dontos’ yang berarti gigi. Cabang ilmu kedokteran gigi ini mempelajari pertumbuh-an, perkembangan, variasi wajah, rahang, gigi, dan abnormalitas dentofasial serta perawatannya. Perawatan orthodonsi ber-tujuan untuk memperbaiki posisi gigi dan memperbaiki maloklusi.
   2.      Definisi dari Maloklusi
Maloklusi menurut World Health Organization (WHO) adalah cacat atau gangguan fungsional yang dapat menjadi hambatan bagi kesehatan fisik maupun emosional dari pasien. Sedangkan menurut F.J Harty (1995) Maloklusi merupakan oklusi abnormal yang ditandai  dengan tidak  harmonisnya  hubungan antar lengkung di setiap bidang spasial atau  anomali abnormal dalam posisi gigi.
   3.      Klasifikasi Maloklusi
Maloklusi terdiri dari beberapa klasifikasi angle, yaitu :
1. Klas I      :  Tonjol mesiobukal gigi molar 1 maksila terletak pada celah bagian bukal gigi molar 1 mandibula (relasi gigi neutroklusi). Kelainan yang menyertai maloklusi klas I yakni: gigi berjejal, rotasi dan protrusi.
2. Klas II   :  Tonjol mesiobukal gigi molar 1 maksila terletak pada  ruangan diantara tonjol mesiobukal M1 dan tepi distal tonjol bukal gigi premolar mandibula (relasi gigi distoklusi), ada 2 divisi dalam klas II Angle
a. Divisi 1  : gigi-gigi anterior di RA inklinasinya ke labial atau protrusi 
b. Divisi 2   : gigi-gigi anterior di RA inklinasinya tidak ke labial atau retrusi
3. Klas III   : Tonjol mesiobukal gigi molar 1 maksila beroklusi dengan bagian distal tonjol distal M1 dan tepi mesial tonjol mesial gigi M2 Mandibula (relasi gigi mesioklusi)



4. Jenis-jenis Maloklusi
1.   Deepbite adalah suatu keadaan dimana jarak menutupnya bagian insisal gigi insisivus maksila terhadap insisal gigi insisivus mandibula dalam arah vertikal melebihi 2-3 mm. Pada kasus deepbite, gigi posterior sering linguoversi atau miring ke mesial dan insisivus mandibula sering berjejal, linguoversi, dan supra oklusi.
2.   Openbite adalah keadaan adanya ruangan oklusal atau insisal dari gigi saat rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan oklusi sentrik. Macam-macam open bite menurut lokasinya antara lain :
                  a.   Anterior openbite
Klas I Angle anterior openbite terjadi karena rahang atas yang sempit, gigi depan inklinasi ke depan, dan gigi posterior supra oklusi, sedangkan Klas II Angle divisi I disebabkan karena kebiasaan buruk atau keturunan.
b. Posterior openbite pada regio premolar dan molar.
      c. Kombinasi anterior dan posterior/total openbite terdapat baik di anterior,
posterior, dapat unilateral ataupun bilateral.
3.      Crowded (Gigi berjejal)
         Gigi berjejal adalah keadaan berjejalnya gigi di luar susunan yang normal. Penyebab gigi berjejal adalah lengkung basal yang terlalu kecil daripada lengkung koronal. Lengkung basal adalah lengkung pada prossesus alveolaris tempat dari apeks gigi itu tertanam, lengkung koronal adalah lengkung yang paling lebar dari mahkota gigi atau jumlah mesiodistal yang paling besar dari mahkota gigi geligi.16 Faktor keturunan merupakan salah satu penyebab gigi bejejal, misalnya ayah mempunyai struktur rahang besar dengan gigi yang besar-besar, ibu mempunyai struktur rahang kecil dengan gigi yang kecil.  Kombinasi genetik antara rahang kecil dan gigi yang besar membuat rahang tidak cukup dan gigi menjadi berjejal. Kasus gigi berjejal dibagi berdasarkan derajat keparahannya, yaitu: 10
a. Gigi berjejal kasus ringan
Terdapat gigi-gigi yang sedikit berjejal, sering pada gigi depan mandibula, dianggap suatu variasi yang normal dan dianggap tidak memerlukan perawatan.
b.  Gigi berjejal kasus berat
Terdapat gigi-gigi yang sangat berjejal sehingga dapat menimbulkan oral hygiene yang buruk.

4. Diastema (Gigi renggang)
Gigi renggang adalah suatu keadaan terdapatnya ruang di antara gigi geligi yang seharusnya berkontak. Diastema ada 2 macam, yaitu: 10
a. Lokal, jika terdapat diantara 2 atau 3 gigi. Penyebabnya antara lain frenulum labial yang abnormal, kehilangan gigi, kebiasaan jelek, dan persistensi.
b. Umum, jika terdapat pada sebagian besar gigi, dapat disebabkan oleh faktor keturunan, lidah yang besar dan oklusi gigi yang traumatis.
   5.      Faktor Penyebab Maloklusi
Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya maloklusi, antara :
1)      Kelainan jumlah gigi
a)      Supernumery teeth mengakibatkan crowding (gigi tidak beraturan)
b)      Missing teeth : anodontia, partial anodontia: hipodontia: oligodontia
2)      Kelainan ukuran gigi dan rahang
a)      Makrodonsia
b)      Mikrodonsia
c)      Mikrognatik
d)     Makrognatik
3)      Kelainan bentuk gigi
a)      Fusi
b)      Dens in dente
c)      Germinasi, dll.
4)      Kelainan frenulum labialis mengakibatkan midline diastema (diastema sentral)
5)      Premature loss gigi desidui
6)      Prolonged retensi gigi desidui
7)      Erupsi gigi yang terlambat
8)      Kelainan/gangguan pada jalan erupsi gigi
9)      Kebiasaan buruk
a)      Kebiasaan mengisap jari
b)      Menghisap dan menggigit bibir
c)      Bruksisme (kebiasaan mengerat gigi)
d)     Bernafas melalui mulut
e)      Cara menelan yang salah (pola penelanan bayi)
Cara menelan yang salah (atypical deglutition) merupakan posisi lidah yang salah pada saat menelan, ditandai dengan masih adanya pola penelanan bayi (infantile swallowing pattern) ketika telah tumbuh gigi, yaitu lidah menekan ke depan diantara lengkung geligi rahang atas dan bawah. Hal ini umum dijumpai pada bayi (97,2%), sedangkan pada usia 10 tahun kurang lebih 30% pasien masih mempunyai pola penelanan bayi. Hal ini dapat menyebabkan maloklusi jika kebiasaan ini masih dilakukan pada saat gigi permanen tumbuh.
   6.      Penanganan Maloklusi
                     Perawatan Ortodonsia terbagi menjadi 3 yaitu :
1)              Perawatan preventif
2)              Perawatan interseptif
3)              Perawatan kuratif
1)      Perawatan Preventif
      Segala tindakan menghilangkan segala pengaruh yang dapat merubah jalan perkembangan normal agar tidak terjadi malposisi gigi dan hubungan rahang yang abnormal. Ilmu ini mempelajari segala macam usaha untuk mencegah mempelajari segala macam usaha untuk mencegah terjadinya kelainan oklusi (maloklusi)
2)      Perawatan interseptif
Perawatan ortodonsi interseptif adalah suatu Perawatan ortodonsi interseptif adalah suatu prosedur ortodontik yang dilakukan pada prosedur ortodontik yang dilakukan pada maloklusi yang baru atau sedang dalam proses maloklusi yang baru atau sedang dalam proses terjadi dengan tujuan memperbaiki ke arah oklusi terjadi dengan tujuan memperbaiki ke arah oklusi normal Contoh : Contoh : Gigi hilang dini (space maintainer) : ortodontik Gigi hilang dini (space maintainer) : ortodontik preventif preventif Gigi hilang dini ruang menyempit (space regainer) : Gigi hilang dini ruang menyempit (space regainer) : ortodontik interseptif ortodontik interseptif
3)      Perawatan kuratif
Perawatan ini dilakukanuntuk mengoreksi maloklusi atau malposisi yang ada dan mengembalikan kepada posisi, oklusi dan lengkung ideal. Perawatan kuratif terbagi menjadi 2 macam yaitu :
a)      Ortho cekat (Fixed Orthodontic Treatment)
b)      Ortho lepasan (Removable Orthodontic Treatment)
            Pesawat lepasan adalah alat orthodontik yang dapat dilepas sendiri oleh pasiennya. Ada 2 macam pesawat lepasan, aktif dan pasif. Aktif dilengkapi dengan komponen aktif, seperti spring atau skrup ekspansi untuk menggerakkan. Sedangkan pesawat pasif didesain untuk mempertahankan gigi pada posisinya, misalnya space maintainer dan retainer.

KESIMPULAN
                     Maloklusi merupakan oklusi abnormal yang ditandai  dengan tidak  harmonisnya  hubungan antar lengkung di setiap bidang spasial atau  anomali abnormal dalam posisi gigi. Maloklusi disebabkan beberapa hal, seperti kelainan dari gigi maupun kebiasaan buruk pada rongga mulut. Maloklusi dibagi menjadi 3 angle, yaitu Klas I, Klas II, dan Klas III. Maloklusi dapat ditangani dengan perawatan ortodontik seperti memakai peranti ortodonti cekat maupun peranti ortodonti lepasan.
SARAN
                     Maloklusi dapat dicegah melalui perawatan ortodonti preventif (tindakan pencegahan) yaitu misalnya dalam periode prenatal anak yang berada dalam kandungan, asupan nutrisi ibu harus baik. Sedangkan, pada periode post natal harus dijaga kebersihan mulutnya (pemilihan dot yang tepat, anak diajari menyikat gigi yang benar) serta dijaga dan dibiasakan untuk tidak melakukan kebiasaan buruk, misalnya menghisap ibu jari.

 REFERENSI
            Budipramana Melisa, Wahju Ardani. Orthodontic Dental Journal ‘Penggunaan Peranti Ortodonti Lepasan dalam Mengatasi Maloklusi Akibat Cara Menelan yang Salah’. Vol. 5 No. 1 Januari-Juni 2014: 1-5.
Liefany Anastasia Wilar, dkk. Jurnal PDGI ‘Kebutuhan Perawatan Orthodonsi Berdasarkan Index Of Orthodontic Treatment Need Pada Siswa SMP Negeri 1 Tareran’. Vol. 2 No. 2 Juli-Desember 2014.
Vigni Astria Laguhi, dkk. Gambaran Maloklusi Dengan Menggunakan HMAR Pada Pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi Manado. Vol. 2 No. 2 Juli-Desember 2014.
Harty F.J. Kamus Kedokteran Gigi. Alih bahasa: Narlan Sumawinata.
Proffit WR. Fields HW. Contemporary orthodontics 2nd ed.St. Louis (MO): Mosby; 1993.
       Bakar, Abu. 2012. Kedokteran Gigi Klinis edisi 2. Quantum sinergis Media: Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar