LATAR
BELAKANG
Maloklusi adalah
keadaan yang menyimpang dari oklusi normal, hal ini dapat terjadi karena ketidaksesuaian antara lengkung gigi dan lengkung
rahang. Keadaan ini terjadi baik pada rahang atas maupun rahang bawah. Gambaran
klinisnya berupa crowding, protrusi, crossbite baik anterior
maupun posterior.
Berdasarkan laporan hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional tahun 2013, sebanyak 14 provinsi mengalami
masalah gigi dan mulut yaitu 25,9%. Prevalensi maloklusi di Indonesia masih
sangat tinggi sekitar 80% dari jumlah penduduk, dan merupakan salah satu
masalah kesehatan gigi dan mulut yang cukup besar, hal ini ditambah dengan
tingkat kesadaran perawatan gigi yang masih rendah dan kebiasaan buruk seperti
mengisap ibu jari atau benda-benda lain, karena jumlah dan keparahan maloklusi
akan terus meningkat maka maloklusi seharusnya dicegah ataupun ditangani.
Lama perawatan pada
satu maloklusi tidaklah sama dengan lama perawatan pada maloklusi jenis yang
lain. Ada banyak faktor yang mempengaruhi lama perawatan ortodontik,
diantaranya: usia pasien, tipe
maloklusi, ada atau tidaknya ekstraksi, penggunaan perangkat yang digunakan
cekat atau lepasan, keparahan maloklusi awal, kooperatif pasien, dll. Beberapa
hal tersebut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi lama perawatan ortodontik.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa definisi dari Perawatan Ortodontik?
2.
Apa definisi dari Maloklusi?
3.
Apa saja klasifikasi dari Maloklusi?
4.
Apa saja jenis-jenis Maloklusi?
5.
Apa saja penyebab dari Maloklusi?
6.
Bagaimana cara menangani Maloklusi?
TUJUAN
PENULISAN
1.
Mengetahui definisi dari Perawatan Ortodontik
2.
Mengetahui definisi dari Maloklusi
3.
Mengetahui klasifikasi dari Maloklusi
4.
Mengetahui jenis-jenis Maloklusi
5.
Mengetahui penyebab dari Maloklusi
6.
Mengetahui cara menangani Maloklusi
PEMBAHASAN
1. Definisi Ortodonti
Orthodonsi
berasal dari bahasa Yunani ‘orthos’ yang berarti normal atau benar dan ‘dontos’
yang berarti gigi. Cabang ilmu kedokteran gigi ini mempelajari pertumbuh-an,
perkembangan, variasi wajah, rahang, gigi, dan abnormalitas dentofasial serta
perawatannya. Perawatan orthodonsi ber-tujuan untuk memperbaiki posisi gigi dan
memperbaiki maloklusi.
2. Definisi dari Maloklusi
Maloklusi menurut World
Health Organization (WHO) adalah cacat atau gangguan fungsional yang dapat
menjadi hambatan bagi kesehatan fisik maupun emosional dari pasien. Sedangkan menurut F.J Harty (1995) Maloklusi merupakan
oklusi abnormal yang ditandai dengan
tidak harmonisnya hubungan antar lengkung di setiap bidang
spasial atau anomali abnormal dalam
posisi gigi.
3. Klasifikasi Maloklusi
Maloklusi terdiri dari beberapa
klasifikasi angle, yaitu :
1.
Klas I :
Tonjol mesiobukal gigi molar 1 maksila terletak pada celah bagian bukal
gigi molar 1 mandibula (relasi gigi neutroklusi). Kelainan yang
menyertai maloklusi klas I yakni: gigi berjejal, rotasi dan protrusi.
2. Klas II :
Tonjol mesiobukal gigi molar 1 maksila
terletak pada ruangan diantara tonjol
mesiobukal M1 dan tepi distal tonjol bukal gigi premolar mandibula (relasi gigi
distoklusi), ada 2 divisi dalam klas II Angle
a. Divisi
1 : gigi-gigi anterior di RA inklinasinya ke labial atau protrusi
b. Divisi
2 : gigi-gigi anterior di RA inklinasinya tidak ke labial atau retrusi
3.
Klas III : Tonjol mesiobukal gigi molar 1 maksila beroklusi dengan
bagian distal tonjol distal M1 dan tepi mesial tonjol mesial gigi M2 Mandibula
(relasi gigi mesioklusi)
4. Jenis-jenis
Maloklusi
1.
Deepbite adalah suatu keadaan dimana jarak
menutupnya bagian insisal gigi insisivus maksila terhadap insisal gigi insisivus
mandibula dalam arah vertikal melebihi 2-3 mm. Pada kasus deepbite, gigi
posterior sering linguoversi atau miring ke mesial dan insisivus mandibula
sering berjejal, linguoversi, dan supra oklusi.
2.
Openbite adalah keadaan adanya ruangan
oklusal atau insisal dari gigi saat rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan
oklusi sentrik. Macam-macam open bite menurut lokasinya antara lain :
a. Anterior openbite
Klas I Angle anterior openbite terjadi karena rahang atas yang sempit, gigi depan
inklinasi ke depan, dan gigi posterior supra oklusi, sedangkan Klas II Angle divisi I disebabkan karena kebiasaan
buruk atau keturunan.
b. Posterior openbite pada regio premolar dan molar.
c. Kombinasi anterior dan posterior/total
openbite terdapat baik di anterior,
posterior, dapat unilateral ataupun bilateral.
3.
Crowded (Gigi berjejal)
Gigi berjejal
adalah
keadaan berjejalnya
gigi di luar susunan yang normal. Penyebab gigi berjejal adalah lengkung basal yang terlalu kecil
daripada lengkung koronal. Lengkung basal adalah lengkung pada prossesus
alveolaris tempat dari apeks gigi itu tertanam, lengkung koronal adalah
lengkung yang paling lebar dari mahkota gigi atau jumlah mesiodistal yang
paling besar dari mahkota gigi geligi.16 Faktor
keturunan merupakan salah satu penyebab gigi bejejal, misalnya ayah mempunyai struktur rahang besar dengan
gigi yang besar-besar, ibu mempunyai struktur rahang kecil dengan gigi yang
kecil. Kombinasi genetik
antara rahang kecil dan gigi yang besar membuat rahang tidak cukup dan gigi
menjadi berjejal. Kasus gigi berjejal
dibagi berdasarkan derajat keparahannya,
yaitu: 10
a. Gigi
berjejal kasus ringan
Terdapat gigi-gigi yang sedikit berjejal, sering pada
gigi depan mandibula, dianggap suatu variasi yang normal dan dianggap tidak
memerlukan perawatan.
b. Gigi
berjejal kasus berat
Terdapat
gigi-gigi yang sangat berjejal sehingga dapat menimbulkan oral hygiene yang
buruk.
4. Diastema (Gigi renggang)
Gigi renggang adalah suatu keadaan terdapatnya ruang
di antara gigi geligi yang seharusnya berkontak. Diastema ada 2 macam, yaitu: 10
a. Lokal, jika terdapat
diantara 2 atau 3 gigi. Penyebabnya antara lain frenulum
labial yang abnormal, kehilangan gigi, kebiasaan jelek, dan
persistensi.
b. Umum, jika
terdapat pada sebagian besar gigi, dapat disebabkan oleh faktor keturunan,
lidah yang besar dan oklusi gigi yang traumatis.
5. Faktor Penyebab Maloklusi
Ada
beberapa hal yang menyebabkan terjadinya maloklusi, antara :
1) Kelainan
jumlah gigi
a) Supernumery teeth
mengakibatkan crowding (gigi tidak
beraturan)
b) Missing teeth
: anodontia, partial anodontia: hipodontia: oligodontia
2) Kelainan
ukuran gigi dan rahang
a) Makrodonsia
b) Mikrodonsia
c) Mikrognatik
d) Makrognatik
3) Kelainan
bentuk gigi
a) Fusi
b) Dens
in dente
c) Germinasi,
dll.
4) Kelainan
frenulum labialis mengakibatkan midline diastema (diastema sentral)
5) Premature
loss gigi desidui
6) Prolonged
retensi gigi desidui
7) Erupsi
gigi yang terlambat
8) Kelainan/gangguan
pada jalan erupsi gigi
9) Kebiasaan
buruk
a) Kebiasaan
mengisap jari
b) Menghisap
dan menggigit bibir
c) Bruksisme
(kebiasaan mengerat gigi)
d) Bernafas
melalui mulut
e) Cara
menelan yang salah (pola penelanan bayi)
Cara menelan yang salah (atypical deglutition) merupakan posisi lidah yang salah pada saat
menelan, ditandai dengan masih adanya pola penelanan bayi (infantile swallowing
pattern) ketika telah tumbuh gigi, yaitu lidah menekan ke depan diantara lengkung
geligi rahang atas dan bawah. Hal ini umum dijumpai pada bayi (97,2%),
sedangkan pada usia 10 tahun kurang lebih 30% pasien masih mempunyai pola
penelanan bayi. Hal ini dapat menyebabkan maloklusi jika kebiasaan ini masih
dilakukan pada saat gigi permanen tumbuh.
6.
Penanganan
Maloklusi
Perawatan Ortodonsia
terbagi menjadi 3 yaitu :
1)
Perawatan preventif
2)
Perawatan interseptif
3)
Perawatan kuratif
1)
Perawatan Preventif
Segala tindakan menghilangkan segala pengaruh yang dapat
merubah jalan perkembangan normal agar tidak terjadi malposisi gigi dan
hubungan rahang yang abnormal. Ilmu ini mempelajari segala macam usaha untuk
mencegah mempelajari segala macam usaha untuk mencegah terjadinya kelainan
oklusi (maloklusi)
2)
Perawatan interseptif
Perawatan ortodonsi
interseptif adalah suatu Perawatan ortodonsi interseptif adalah suatu prosedur
ortodontik yang dilakukan pada prosedur ortodontik yang dilakukan pada
maloklusi yang baru atau sedang dalam proses maloklusi yang baru atau sedang
dalam proses terjadi dengan tujuan memperbaiki ke arah oklusi terjadi dengan
tujuan memperbaiki ke arah oklusi normal Contoh : Contoh
:
Gigi hilang dini (space maintainer) : ortodontik Gigi hilang dini (space
maintainer) : ortodontik preventif preventif Gigi hilang
dini ruang menyempit (space regainer) : Gigi hilang dini ruang menyempit (space
regainer) : ortodontik interseptif ortodontik interseptif
3)
Perawatan kuratif
Perawatan ini
dilakukanuntuk mengoreksi maloklusi atau malposisi yang ada dan mengembalikan
kepada posisi, oklusi dan lengkung ideal. Perawatan kuratif terbagi menjadi 2
macam yaitu :
a)
Ortho cekat (Fixed Orthodontic Treatment)
b)
Ortho lepasan (Removable Orthodontic Treatment)
Pesawat
lepasan adalah alat orthodontik yang dapat dilepas sendiri oleh pasiennya. Ada 2
macam pesawat lepasan, aktif dan pasif. Aktif dilengkapi dengan komponen aktif,
seperti spring atau skrup ekspansi untuk menggerakkan. Sedangkan pesawat pasif
didesain untuk mempertahankan gigi pada posisinya, misalnya space maintainer
dan retainer.
KESIMPULAN
Maloklusi
merupakan oklusi abnormal yang ditandai
dengan tidak harmonisnya hubungan antar lengkung di setiap bidang
spasial atau anomali abnormal dalam
posisi gigi. Maloklusi disebabkan beberapa hal, seperti kelainan dari gigi
maupun kebiasaan buruk pada rongga mulut. Maloklusi dibagi menjadi 3 angle,
yaitu Klas I, Klas II, dan Klas III. Maloklusi dapat ditangani dengan perawatan
ortodontik seperti memakai peranti ortodonti cekat maupun peranti ortodonti
lepasan.
SARAN
Maloklusi
dapat dicegah melalui perawatan ortodonti preventif (tindakan pencegahan) yaitu
misalnya dalam periode prenatal anak yang berada dalam kandungan, asupan
nutrisi ibu harus baik. Sedangkan, pada periode post natal harus dijaga
kebersihan mulutnya (pemilihan dot yang tepat, anak diajari menyikat gigi yang
benar) serta dijaga dan dibiasakan untuk tidak melakukan kebiasaan buruk,
misalnya menghisap ibu jari.
REFERENSI
Budipramana
Melisa, Wahju Ardani. Orthodontic
Dental Journal ‘Penggunaan Peranti
Ortodonti Lepasan dalam Mengatasi Maloklusi Akibat Cara Menelan yang Salah’. Vol. 5 No. 1 Januari-Juni 2014: 1-5.
Liefany Anastasia
Wilar, dkk. Jurnal PDGI ‘Kebutuhan Perawatan Orthodonsi Berdasarkan Index Of Orthodontic Treatment Need Pada
Siswa SMP Negeri 1 Tareran’.
Vol. 2 No. 2 Juli-Desember 2014.
Vigni Astria Laguhi, dkk. Gambaran Maloklusi Dengan Menggunakan HMAR
Pada Pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi Manado.
Vol. 2 No. 2 Juli-Desember 2014.
Harty F.J. Kamus Kedokteran Gigi. Alih bahasa:
Narlan Sumawinata.
Proffit WR. Fields HW. Contemporary orthodontics 2nd ed.St. Louis (MO): Mosby; 1993.
Bakar, Abu. 2012. Kedokteran Gigi Klinis edisi 2. Quantum
sinergis Media: Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar